Sunday, August 28, 2016

Keunggulan Usahatani Minapadi

Oleh : Nyi Jayanti
NIM :13548
Gol   : A3.2







              Usahatani minapadi memiliki keunggulan sebagai berikut: usahatani minapadi secara tidak langsung telah menerapkan prinsip Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Ikan membantu memakan binatang-binatang kecil yang merupakan hama tanaman padi (carnivora) dan juga gulma kecil pada lahan sawah. Pada sore hari ketika ikan menggoyang-goyangkan tanaman padi, serangga yang hinggap pada padi akan terbang kemudian dimangsa oleh burung layang-layang. Dengan pemanfatan lahan secara tumpangsari dengan tanaman padi dan ikan di sawah, maka produktivitas lahan akan meningkat.
             Meningkatkan efisiensi penggunaan pupuk dan air. Pada kegiatan minapadi, kotoran ikan merupakan sumber pupuk organik bagi tanaman padi. Rendahnya pemakaian pupuk oleh petani karena adanya korelasi ekologis antara penanaman ikan dengan peningkatan kesuburan tanah. Kotoran ikan dan sisa makanan menjadi pupuk dan menghemat keperluan pupuk sekitar 20-30%. Mengurangi pemakaian insektisida dan pertumbuhan rumput. Hal ini terjadi karena terciptanya hubungan yang harmonis antara padi, ikan, air, dan tanah.
         Meningkatkan efisiensi tenaga kerja yang dicurahkan dalam pengelolaan minapadi terutama dalam pemupukan, penyemprotan, dan penyiangan. Meningkatkan hasil setara padi dan distribusi pendapatan. Melalui minapadi, sumber pendapatan petani tidak hanya dari padi tetapi juga dari ikan yang bisa sering dipanen. Dengan demikian, minapadi selain memperkuat dan meningkatkan sumber dan besarnya pendapatan petani, sekaligus juga meingkatkan distribusi pendapatan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
         Meningkatkan ragam protein hewani dan menyediakan lapangan kerja baru. Kegiatan minapadi akan menciptakan usaha baru seperti usaha pendederan bibit ikan, usaha pemasaran ikan dan juga pengolahan ikan. Dengan pola minapadi produksi gas metan yang dibuang dari sisa pemupukan berkurang. Gas metan yang dihasilkan dari minapadi hanya 57,3 kg/ha/musim, sementara monokultur padi menghasilkan gas metan 66,6 kg/ha/musim. Penurunan itu akan semakin nyata jika minapadi ditambah 2 ton/ha azolla, dimana gas metan yang dihasilkan hanya 45,0 kg/ha/musim.
        Rekayasa sistem tanam padi dengan cara tanam jajar legowo 2:1, berdasarkan hasil penelitian terbukti dapat meningkatkan produksi padi sebesar 12-22%. Sistem jajar legowo memberikan ruang yang luas (lorong) dan sangat cocok dikombinasikan dengan pemeliharaan ikan (minapadi jajar legowo).


Sumber     : http://bbpadi.litbang.pertanian.go.id/index.php/berita/info-teknologi/content/276-keunggulan-usahatani-minapadi
Tanggal          : 4 Februari 2016

Saturday, August 27, 2016

PENYULUH PERIKANAN, PROFESI YANG MEMBANGGAKAN

Penyuluh Perikanan, Profesi yang Membanggakan
Bimastya Lazuardi (13945)


                Penyuluh perikanan memiliki potensi dan kekuatan dalam menjalankan tugasnya. Penyuluh perikanan mengenal kondisi dan potensi wilayah serta sosial budaya setempat. Juga mengenal kondisi pelaku utama dan pelaku usaha di sektor kelautan dan perikanan.

Selain itu, penyuluh perikanan memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dengan pelaku utama dan pelaku usaha binaannya. Juga memiliki kompetensi dan kemampuan dibidangnya.

Pada saat ini penyuluh sangat diharapkan mampu menyesuaikan diri untuk mengikuti perkembangan dinamika pembangunan perikanan. Sebagaimana diketahui, dinamika pembangunan perikanan saat ini mengarah kepada pengembangan industrialisasi di kawasan minapolitan dengan mengedepankan konsep ekonomi biru.

Melalui fokus pengembangan industrialisasi di kawasan minapolitan dengan mengedepankan konsep ekonomi biru ini, diperlukan suatu kegiatan usaha yang berdaya saing memiliki nilai tambah, modernisasi sistem produksi hulu dan hilir, dan penguatan pelaku industri perikanan.Termasuk pemanfaatan sumber daya alam secara efisien dan tidak menghasilkan limbah serta mengupayakan pelestarian lingkungan.

Sehubungan dengan hal itu, pelaku utama dan pelaku usaha di sektor kelautan dan perikanan memerlukan kemampuan agar dapat mengikuti dinamika pembangunan industrialisasi kelautan dan perikanan. Perwujudan kemampuan tersebut, dapat diperoleh dengan adanya pendampingan yang difasilitasi oleh seorang penyuluh yang kompeten dan profesional.

Untuk menghasilkan penyuluh yang kompeten dan profesional, maka diperlukan peningkatan komunikasi antara penyuluh dengan dunia usaha, antara lain melalui temu usaha/bisnis yang berkala dan terprogram. Peningkatan peran aktif penyuluh swasta dan penyuluh swadaya, antara lain melalui temu koordinasi dan peningkatan kompetensi melalui magang di lembaga pendidikan, lembaga penelitian, lembaga perekayasaan teknologi dan dunia industri.

Tidak ketinggalan, guna menghasilkan penyuluh yang kompeten dan profesional diperlukan peningkatan wawasan melalui pelatihan di lembaga pemerintah dan swasta dengan mengedepankan fasilitasi pemerintah daerah. Juga mengupayakan terwujudnya sertifikasi profesi penyuluh.



Bangun Komitmen

Seorang penyuluh perikanan harus membangun dan mengembangkan komitmen dalam menjalankan tugasnya. Komitmen itu adalah keyakinan bahwa penyuluh perikanan sebagai sebuah profesi yang membanggakan, bertanggung jawab, mempunyai integritas tinggi, dan profesional.

Penyuluh perikanan itu adalah salah satu bagian dari sumber daya manusia yang sangat penting dan strategis dalam mendukung kemajuan di sektor kelautan dan perikanan. Keberadaan penyuluh perikanan harus mampu membawa manfaat untuk kemajuan pelaku atau kelompok yang dibimbingnya.

Penyuluh perikanan harus mampu menjadi agen perubahan bagi pelaku utama dan pelaku usaha di sektor kelautan dan perikanan. Hal itu dilakukan melalui bimbingan dan arahan kepada masyarakat binaannya sehingga dari yang tadinya tidak tahu menjadi tahu.

Penyuluh pun harus mampu menjadi konsultan bisnis. Pasalnya, penyuluh dalam kegiatannya memberikan informasi khususnya terkait masalah teknis dan memberikan solusi terhadap masalah yang ada. Sehingga, penyuluh harus tahu usaha di sektor kelautan dan perikanan dari hulu sampai hilir termasuk nilai – nilai ekonomis dari komoditas yang ada.

                Bergesernya usaha perikanan dari usaha perikanan tangkap yang semakin terbatas sumber dayanya ke usaha perikanan budidaya yang terus dikembangkan sampai ke pengolahan dan pemasarannya menuntut peran penyuluh perikanan dalam mengawal kemajuannya. Termasuk peran penting penyuluh dalam mendukung kesuksesan program prioritas Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).



Tingkatkan Kapasitas

Guna mendukung kinerjanya, penyuluh harus terus ditingkatkan kapasitas dan kemampuannya. Caranya, melalui berbagai pelatihan agar peluang atau kendala bisa diinformasikan ke pelaku utama dan pelaku usaha di sektor kelautan dan perikanan.

                Penyuluh perikanan sebagai sumber daya manusia yang hebat harus bekerja keras agar terus maju dan berkembang. Tidak hanya melalui pelatihan, penyuluh pun bisa mendapatkan informasi terkini di sektor kelautan dan perikanan melalui internet.

Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan Perikanan (BPSDM KP) melalui Pusat Penyuluhan Kelautan Perikanan (Pusluh KP) KKP menginisiasi adanya website cyber extension. Ini merupakan terobosan dalam mengatasi keterbatasan dana dalam melakukan penyuluhan.

Website ini bisa menjadi media bagi penyuluh perikanan untuk memperkuat proses belajar mengajar dan memperkuat materi-materi penyuluhan yang disampaikan ke pelaku utama dan pelaku usaha di sektor kelautan dan perikanan. Penyuluh tidak perlu tatap muka dalam mengakses informasi ini sehingga lebih memudahkan kinerjanya.

Keberadaan website cyber extension akan membantu penyuluh perikanan yang bertugas diberbagai daerah di Indonesia khususnya di daerah terpencil. Apalagi sarana internet sudah menjangkau berbagai daerah dengan adanya program “mobile internet” dari Kementerian Komunikasi dan Informasi.

Untuk mengakses website cyber extension inipun penyuluh bisa mengakses melalui telepon genggam yang ada fasilitas untuk internetan. Terlebih, KKP telah memfasilitasi para penyuluh telepon genggam yang bisa mengakses internet untuk memudahkan kinerjanya di lapangan.

Ke depan, penyuluh perikanan memiliki masa depan yang sangat prospektif karena kalau bicara sektor kelautan dan perikanan selalu bicara spesiesnya, habitatnya, dan manusianya. Dan, penyuluh perikanan lah yang memiliki peran strategis dalam mengawal dan membina kemajuan pelaku utama dan pelaku usaha di sektor kelautan dan perikanan.



Sumber : Ditulis oleh Suseno Sukoyono Kepala BPSDM KP (Badan Pengembangan Sumber Daya manusia Kelautan dan Perikanan)
Tanggal artikel : 8 Oktober 2013
Alamat web artikel : http://pusluh.kkp.go.id/arsip/c/362/?category_id=2

Thursday, August 25, 2016

Budidaya Sayuran di Lahan Pekarangan

 oleh: Jordy Velano Fohman | NIM : 14363
             
Sumber Gambar: google.com
Pekarangan adalah areal tanah yang biasanya berdekatan dengan sebuah bangunan. Jika bangunan tersebut rumah maka disebut pekarangan rumah. Pekarangan dapat berada di depan, belakang atau samping sebuah bangunan, tergantung seberapa luas sisa tanah yang tersedia setelah dipakai untuk bangunan utamanya. Budidaya sayuran di pekarangan bukan merupakan hal baru. Namun, seiring berjalannya waktu kebiasaan ini semakin ditinggalkan, bahkan tidak mengherankan banyak pekarangan di perdesaan justru tidak dimanfaatkan. Oleh sebab itu, strategi dalam pemenuhan bahan pangan sayuran, di antaranya melalui pemanfaatan lahan pekarangan.

Berbeda dengan lahan pertanian secara umum, pekarangan rumah memiliki luasan yang relatif sempit, bersentuhan langsung dengan penghuni rumah, serta memiliki peran yang sangat kompleks. Karena itu, pemanfaatannya harus direncanakan sehingga dapat berfungsi optimal, baik dalam hal tingkat produksi maupun dalam pemanfaatan lainnya di rumah tangga. Beberapa syarat yang harus dipenuhi dalam budidaya sayuran di pekarangan, di antaranya harus memiliki nilai estetika atau keindahan. Strategi yang dapat dilakukan, di antaranya melalui pengaturan jenis, bentuk dan warna tanaman. Selain itu model yang digunakan sebaiknya bersifat mobile atau mudah untuk dipindahkan. Hal ini diperlukan untuk mengantisipasi pemanfaatan dan penataan pekarangan. Model budidaya yang dapat memenuhi kriteria demikian adalah model budidaya secara vertikal atau vertikultur dan budidaya dalam pot.

Hampir semua jenis tanaman dapat di tanam dalam sistem vertikultur dan pot. Jenis tanaman tersebut , di antaranya bayam, kangkung, sawi, selada, kemangi, kucai, seledri, cabai, tomat, terong, pare, kacang panjang, timun dan lain sebagainya. Namun demikian, untuk budidaya vertikultur menggunakan wadah talang, bambu atau paralon yang dipasang secara horizonal kurang cocok untuk sayuran jenis buah, seperti cabai, terong, tomat, pare, dll. Hal ini disebabkan dangkalnya wadah pertanaman sehingga tidak cukup kuat menahan tumbuh-tegak tanaman. Sayuran buah cocok untuk di tanam dalam pot, polybag atau paralon dan bambu yang ditegakkan sehingga dapat menampung media tanaman dalam jumlah cukup banyak.

Media tanam yang digunakan merupakan campuran tanah, pupuk kandang atau kompos, dan sekam bakar yang telah dihilangkan bongkahannya atau disaring menggunakan saringan kawat berdiameter 0,5 – 1 cm. Perbandingan media tanam yang umum digunakan adalah 1 bagian tanah, 1 bagian pupuk kandang atau pupuk kompos, dan 1 bagian sekam bakar. Namun demikian, formula tersebut bukan merupakan formula baku, yang penting bahan organik dan sekam yang ditambahkan cukup banyak sehingga media cukup subur. Media tanaman tersebut selanjutnya dapat digunakan sebagai media pembibitan untuk tanaman yang perlu dibibitkan ataupun media tanam yang akan digunakan dalam pot atau rak vertikultur.

Untuk penanaman sayuran ada beberapa yang perlu diperhatikan :
  1. Pilih bibit yang sehat , tidak cacat dan seragam
  2. Buat lubang tanam seukuran wadah bibit. Pada sistem vertikultur rak berjenjang jarak tanam berkisar 10-15 cm. Pada penanaman sistem pot, jumlah tanaman yang ditanam sebanyak 1 tanaman per pot untuk pot berukuran 3-10 kg. Sedangkan untuk pot berukuran lebih besar jumlah tanaman berkisar 2-3 tanaman, khususnya untuk sayuran buah merambat seperti pare, timun, oyong dan tanaman jenis lainnya.
  3. Keluarkan bibit secara hati-hati dengan cara menggunting wadah atau membalikkan wadah sehingga media dan perakaran bibit tidak terganggu.
  4. Masukkan bibit ke dalam lubang tanam, selanjutnya tutup lubang tanam menggunakan media tanam yang sebelumnya dikeluarkan pada saat membuat lubang tanam.
  5. Lakukan penyiraman hingga media tanam menjadi basah secara merata.
Untuk sayuran yang dibudidayakan secara organik, jenis pupuk yang digunakan adalah pupuk kandang dan pupuk kompos. Pemberian pupuk dilakukan pada saat pembuatan media tanam dengan menambah volume pupuk kompos atau pupuk kandang lebih banyak, misalnya, 2 atau 3 bagian dibandingkan tanah dan sekam. Pupuk susulan dapat berupa pupuk organik cair. Intensitas pemberian pupuk organik biasanya dilakukan 3-7 hari sekali dengan cara melarutkan 10-100 ml pupuk dalam 1 liter air dan disiramkan secara merata pada media tanam. Pada sayuran buah karena masa tumbuhnya lebih panjang , maka pemupukan susulan selain menggunakan pupuk organik cair, juga dapat dilakukan pemberian pupuk susulan berupa pupuk kandang atau pupuk kompos setiap 30 hari sekali sebanyak 50-100 gram atau 2-3 genggam pupuk pertanaman.
Untuk sayuran non organik , pemupukan dapat dilakukan menggunakan pupuk kimia seperti pupuk majemuk NPK, campuran pupuk tunggal urea, TSP dan KCL masing-masing satu bagian, atau pupuk pelengkap cair. Pemupukan dapat dilakukan dengan cara menabur pupuk 0,5-1sendok teh di sekitar perakaran tanaman. Setelah pupuk ditaburkan maka harus segera dilakukan penyiraman tanaman untuk menghindari efek negatif kegaraman pupuk kimia terhadap tanaman. Pemupukan susulan dapat dilakukan dengan cara melarutkan 1 sendok pupuk NPK atau campuran pupuk urea, TSP dan KCL ke dalam 10 liter air. Kemudian siramkan secara merata pada media tanam. Pengulangan dapat dilakukan setiap 3 atau 7 hari sekali.

Selain pemupukan, sayuran perlu dilakukan penyiraman. Penyiraman harus benar-benar diperhatikan pada saat fase pembungaan dan pembesaran buah. Keterlambatan penyiraman akan menyebabkan bunga atau bakal buah menjadi rontok. Lakukan juga pengendalian hama dan penyakit. Pengendaliannya dapat dilakukan secara fisik atau dapat juga secara kimiawi menggunakan insektisida nabati. Sementara itu, sayuran umumnya dipanen secara bertahap sesuai dengan fase pematangan.

Sumber : Badan Litbang Pertanian, 2014. ditulis oleh Sumardi.

Tanggal Artikel : 10-08-2016

Sumber artikel : http://cybex.pertanian.go.id/materipenyuluhan/detail/10752/budidaya-sayuran-di-lahan-pekarangan